RANGKMAN WEEK IV -LEVEL KNOWLEDGE ORGANIZATION-

Rangkuman

Pada umumnya sebuah perusahaan haruslah membuat sebuah pengaturan knowledge management yang berfungsi untuk mendefinisi kebutuhan apa saja yang akan dibutuhkan oleh sebuah perusahaan. Pertama-tama yang dilakukan adalah menentukan rancangan kerja yang sesuai dengan visi misi atau aligining knowledge management goal. Setelah itu barulah sebuah perusahaan menyiapkan segala infrastuktur yang mendukung dengan kebutuhan untuk mencapai goal tadi.

Apabila kemudian sudah ditentukan identifiying knowledge terkadang suka dilupakan bahwa identifying tersebut haruslah lebih spesifik atau lebih kepada sekelompok karyawan didalam sebuah perusaahaan. Proses tersebut dikenal dengan level knowledge oraganisasi.

Level Knowledge organisasi adalah sebuah proses dari pengidentifikasian berdasarkan kebuthan sebuah perusahaan atau oraganisasi, dimana mengacu kepada pendekatan bisa dilakukan dengan berdasarkan jenis knowledge dari yang tacit dan explisit.

Tacit Knowledge adalah berupa pengetahuan  yang berkembang dari sesuatu menjadi pengetahuan  melalui proses yang tidak mudah untuk dideskripsikan atau dibagikan. Bisa berupa pengalaman, ataupun kemampuan seseorang yang tidak terdokumentasi. Contohnya adalah ketika seseorang belajar memasak yang membutuhkan proses pengalaman untuk mendapatkan kemampuan memasak tersebut.

Explicit Knowledge adalah pengetahuan yang sudah terdokumentasi dan mudah untuk dideskripsikan dan dibagikan, biasanya bersifat logic.  Contohnya adalah pengetahuan yang terdapat pada buku, jurnal, artikel, ataupun sumber lainnya yang didokumentasikan.

Pada level knowledge organisasi sering kita degar istilah Probst memperkenalkan pendekatan yang lebih mudah untuk melakukan identifikasi knowledge khusus di dalam organisasi / perusahaan. Disini dia membagi menjadi 3 kelompok knowledge yaitu struktural, aktifitas dan habitual. Pendekatan analisa tetap bisa dikombinasikan dengan knowledge tacit dan expisit untuk melihat.

Berikut ini adalah penjelasan dari pendapat Probst:

Sturktural

Merupakan suatu pendekatan yang lebih kepada visi misi suatu perusahaan. Pada tahap ini dilakukan dengan menganalisa berdasarkan knowledge structural. Knowledge structural adalah knowledge yang memangdibentuk atau lahir dari struktural organisasi, jadi disini merupakan knowledge yang biasanya hadir dalam bentuk tatanan, aturan dan standar. Contohnya sebuah kampus mempunyai visi misi giving and caring the world, itu merupaka suatu acuan untuk menentukan knowledge structural.

Aktifitas

Pada tahap ini knowledge terserbut dipandang dari sisi fungsional nya. Oleh karena itu proses aktifitas sering sekali disebut dengan knowledge fungsional. Knowledge ini sering disebut juga function knowledge karena yang digambarkan disini lebih menggambarkan fungsi orangnya. Jadi disini lebih detail ke secara aktifitas dalam mengerjakan setiap pekerjaan atau dalam

menjalankan fungsinya.

Contohnya saja kita ambil mahasiswa, didalam knowledge structural seorang mahsiswa mempunyai kewajiban untuk mendapat ilmu dan diharapkan oleh seorang mahasiswa kelak dapat mengunkan ilmunya didunia kerja sehingga lulusan dari kampus tersebut dapat diserap dengan mudah oleh industry. Sedangkan aktifitas yang dilakukan berfasarkan fungsinya seorang mahasiswa wajib untuk medapatkan mata kuliah, mengikuti ppelajaran dan mengumpulkkan tugas.

Habitual

Pada Knowledge ketiga dipandang dari sisi budaya. Organisasi biasanya memiliki budaya baik

yang secara tidak disadari membangun dan membentuk pola kerja di dalam organisasi. Contohnya saja ditempat saya bekerja penampillan yang rapih pun sangat diutamakan maka didepan pintu gerbang selalu ada sebuah kaca besar. Hal ini merupakan suatu contoh knowledge Habitual.

Forum Question

Dear class,
Pendekatan dalam melakukan identifikasi ada 3 level, struktural, activities, dan behaviour. Manakah yang lebih sulit di perusahaan anda?

Forum Answer

Fransiscus M Sianturi

Pendekatan secara behavioral yang paling sulit dilakukan.
Karena berhubungan dengan sifat manusia maka pendekatan ini lebih sering digunakan dengan sedikit memaksa kepada karyawan. Seperti contoh keterlambatan karyawan akan memotong tunjangan transportasi dari karyawan yang terlambat dan keterlambatan tiga berturut-turut akan dikenakan SP.
Sifat memaksa tersebut membuat karyawan mau-tidak mau harus menjalankanya, hal ini menjadi suatu kebiasaan bagus dari karyawan dalam hal disiplin waktu.

Terimakasih.

Anggu Gugun Gumati

saya setuju. pendekatan behavioral memang lebih sulit. ya .. biasanya perusahaan mengakali dengan menerapkan sistem disiplin yang memaksa. mungkin memang berhasil dan mencapai target. tapi ada juga resiko ketidaknyamanan dari karyawan. ini membuat mereka menjadi tidak nyaman mungkin akan banyak karyawan “keluar masuk”. tentu saja ini tidak baik, khusunya karena knowladge menjadi lebih sulit untuk di manage.

mohon tanggapan .

ADHITYA YUDHA PERMANA

Saya juga setuju, seharusnya penerapan sistem disiplin dilakukan tidak terlalu memaksa. Jangan sampai karyawan berpikir masuk tepat waktu karena menghindari pemotongan gaji atau hukuman, tetapi harus dengan kesadaran sendiri.

Dimas Bayu Putra

kalau saya termasuk yang setuju dengan disiplin yang tegas,
ini terlihat sekali saat perusahaan saya bekerja di ambil oleh pihak jepang,
terlihat karyawan menjadi kelimpungan sendiri karena semuanya menjadi serba teratur dan tertata,
memang adaptasi ini cukup lama dan sulit tapi tetap mungkin untuk dilakukan
tapi setelah ini berhasil dilakukan tidak adalagi yang diam di kantin setelah bel berbunyi, tidak ada lagi yang keluar pabrik tanpa mengikuti prosedur yang ditentukan

Bayu Ramdani

saya setuju dengan Fransiscus M Sianturi. diperusahaan tempat saya bekerja, sangat sulit sekali mengubah behavioral seseorang. Hal itu ditambah dengan banyak sekali karyawan yang senior, sehingga perasaan “merasa dirinya paling benar” menjadi sangat dominan.. mungkin dengan adanya sanksi2 yang tegas dapat mengilangkannya.

Christian Faris

Dear Pak Agus, Saya juga sependapat dengan Frans untuk pendekatan struktural behavior yang tersulit dikarenakan harus behubungan langsung dengan karakter sifat dari pekerja meski untuk suatu tujuan tatanan kedisiplinan. Tiap karyawan memiliki behaviour dan sifat yang berbeda pula dan seringkali dibutuhkan pengawasan/supervision yang ekstra untuk memastikan kualitas kerja yang baik dari karyawan, seringkali pendekatan ini harus memperhatikan aspek moral dan aspek integritas karena tidak sedikit karyawan yang henkang dari perusahaan hanya dikarenakan sikap dan tatanan aturan dari supervisor atau atasan kurang menjadi teladan, seperti dalam hal tata perkataan, disiplin waktu, karakter dominan atau keras, favoritism, atau case2 lainnya. Menurut saya pendekatan behavior ini tersulit. Demikian dari saya pak.

best regards

IRWAN KADHAFI

memang sepertinya behavioral agak sulit diterapkan pak. karena tingkatan skill seseorang tidak sepenuhnya sama dan prosesnya agak sulit jika tidak total diterapkan. tapi hasilnya akan lebih baik jika berjalan dengan baik

rgds

Linawati

Sependapat dengan rekan-rekan; Pendekatan behaviour / habital adalah yg paling sulit dan riskan.
Untuk itu, perusahaan membuat peraturan perusahaan yang harus ditaati oleh semua karyawan. Baik secara reward maupun punishmentnya. Walaupun begitu, sangat sulit mengharapkan karyawan akan mematuhi semuanya, apalagi kalau mereka merasa paling senior, paling tau dengan semua sistem yang ada, dan berada di posisi sebagai key person.

Trims,

Andi Noviandi

saya juga setuju dengan saudara Dimas, tindakan disiplin dan tegas merupakan hal yang sangat penting dilakukan oleh suatu perusahaan agar karyawannya mematuhi peraturan dengan baik. Sepertinya faktor penting yang perlu diperhatikan adalah memperkenalkan kebiasaan/budaya perusahaan pada calon karyawan, jadi pada saat perekrutan karyawan harus dijelaskan secara jelas budaya yang ada diperusahaan, jangan sampai karyawan yang baru pertama masuk menjadi kaget dan tidak setuju karena ternyata peraturannya sangat ketat, sehingga dapat menjadi pengaruh buruk bagi karyawan lainnya. Dijepang memang budayanya budaya disiplin tinggi, berbeda dengan di indonesia jadi lebih mudah dalam mengatur karyawannya

Thanks

Ucok Mandalahi

menurut sy,,pendekatan activities dan behavior memiliki hubungan..
ketika suatu activities sudah sering dilakukan dan menjadi kebiasaan, hal tersebut maka akan menjadi suatu behaviour pd perusahaan tersebut.. bnarkah demikian??

Linawati

Behavior yang paling sulit, karena ini menyangkut disiplin setiap karyawan. Bila disiplin tidak baik, maka aktivitas perusahaan akan terganggu dan tidak berjalan sesuai dengan target

Benhram

Pak Agus, kalau menurut saya yang lebih sulit adalah Behavioral karena ini merubah kebiasaan karena sudah membudaya pekerjaan lebih banyak kepada faktor kebiasaan bukan berdasarkan SOP, walaupun SOP ada tapi tidak pernah di review, kadang sudah tidak cocok lagi dengan kondisi sekarang tapi masih tetap digunakan, dengan alasan “Dari dulu sudah seperti in ….”,kata-kata inilah yang sering kita dengar. \

terima kasih.

Yunita

Dear all, setuju degan rekan andi, memang sebaiknya budaya yang ada di kantor di perkenalkan kepada karyawan baru saat perekrutan untuk menghindari terjadinya pelanggaran , aturan dan tata tertib perusahaan.

regards,

Oculy Mility Silaban

Sependapat dengan rekan-rekan;  Pendekatan behaviour / habital memang sangat sulit diterapkan. Mungkin dengan meningatkan melalui email dan papan pengumuman akan sangat membantu.

Abdul Chodir

saya setuju. pendekatan behavioral memang lebih sulit.

Elga F Silaban

menurut saya pendekatan behaviourlah yang paling sulit.
karena yang diidentifikasi kebanyakan adalah hal-hal yang abstrak. contohnya : kebiasaan yang berlaku dikantor te

Leave a Reply